Sejarah Suku Bali: Dari Prasejarah hingga Era Modern
SEJARAH SUKU BALI
PRASEJARAH BALI & ASAL USUL NENEK MOYANG
Asal usul nenek moyang orang Bali dapat dilacak hingga masa prasejarah, sekitar 2000 tahun yang lalu. Masyarakat Bali berasal dari bangsa Austronesia, yang menyebar dari Taiwan sekitar 2000 SM dan bermigrasi ke seluruh wilayah Asia Tenggara. Mereka adalah pelaut ulung yang menetap di Bali dan membangun peradaban awal dengan bercocok tanam, terutama penanaman padi di sawah. Bali yang subur menjadi tempat yang ideal untuk pertanian, dan sistem irigasi yang kelak dikenal sebagai subak mulai berkembang pada masa ini.
Pada masa berikutnya, masyarakat Bali mulai menerima pengaruh budaya megalitik, terlihat dari penggunaan batu-batu besar dalam upacara-upacara keagamaan dan penguburan. Artefak megalitik seperti dolmen, menhir, dan sarkofagus ditemukan di beberapa wilayah Bali, seperti di desa Trunyan dan Tenganan. Kepercayaan animisme dan dinamisme mengakar dalam masyarakat Bali awal, di mana roh leluhur dan kekuatan alam dianggap memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.
Jejak kehidupan manusia di Bali sudah ada sejak masa prasejarah, yang dapat dilacak melalui penemuan artefak-artefak seperti alat-alat batu di kawasan Pejeng, Gianyar. Perkembangan kebudayaan di Bali terjadi seiring dengan budaya megalitik, ditandai dengan ditemukannya sarkofagus, dolmen, dan menhir di beberapa tempat, seperti di desa Trunyan dan Tenganan. Pada masa ini, masyarakat Bali hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang mulai mengenal sistem kepercayaan animisme dan dinamisme.
Sekitar abad ke-1 hingga ke-8 M, Bali mulai menerima pengaruh dari India melalui jalur perdagangan, membawa agama Hindu dan Buddha ke Bali. Pengaruh ini melebur dengan kepercayaan lokal, menciptakan sistem kepercayaan Hindu Bali yang unik, yang memadukan pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu dengan penghormatan terhadap roh leluhur dan alam.
PENGARUH INDIA & KERAJAAN AWAL
Bali mulai mendapat pengaruh India melalui jalur perdagangan yang berkembang pesat di Asia Tenggara sekitar abad ke-1 hingga ke-8 Masehi. Pengaruh ini membawa agama Hindu dan Buddha, yang kemudian melebur ke dalam kebudayaan lokal Bali. Salah satu bukti awal pengaruh India adalah prasasti Sanur (tahun 914 M), yang mencatat keberadaan seorang raja bernama Sri Kesari Warmadewa. Dinasti Warmadewa adalah dinasti pertama yang tercatat memerintah di Bali, dan mereka dianggap sebagai pelopor kerajaan awal di Bali, termasuk Kerajaan Bedahulu.
Kerajaan Bedahulu (juga dikenal sebagai Pejeng) memerintah Bali hingga abad ke-14. Raja terakhirnya, Sri Astasura Ratna Bumi Banten, dikalahkan oleh ekspedisi Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada pada tahun 1343. Kekalahan ini menandai dimulainya era baru bagi Bali, yaitu integrasi Bali ke dalam Kerajaan Majapahit.
BALI AGA : MASYARAKAT ASLI PRA-MAJAPAHIT
Masyarakat asli Bali yang disebut Bali Aga adalah penduduk yang hidup di pegunungan dan desa-desa terpencil, seperti Tenganan dan Trunyan. Mereka adalah masyarakat yang menjaga tradisi prasejarah dan Hindu lokal sebelum kedatangan pengaruh Majapahit. Bali Aga memiliki adat yang berbeda dengan Bali Majapahit, seperti sistem penguburan mayat yang unik di Trunyan, yang mana jenazah tidak dikuburkan melainkan diletakkan di bawah pohon taru menyan, sebuah pohon besar yang mengeluarkan aroma khas dan menghalau bau busuk jenazah.
ERA MAJAPAHIT / BALI MAJAPAHIT
Setelah ekspedisi Majapahit di bawah Gajah Mada berhasil menaklukkan Bali pada tahun 1343, Bali secara resmi menjadi bagian dari kerajaan besar tersebut. Pengaruh Majapahit sangat kuat di Bali, membawa budaya, agama, dan sistem pemerintahan Jawa Timur ke pulau ini. Hindu-Jawa yang berkembang di Majapahit juga diterima oleh masyarakat Bali, menciptakan apa yang kemudian dikenal sebagai Bali Majapahit. Pada masa ini, pusat kekuasaan Bali dipindahkan dari Bedahulu ke Gelgel, yang menjadi kerajaan Bali yang kuat dan berpengaruh hingga abad ke-17.
Raja-raja Gelgel memerintah dengan kebudayaan Hindu-Bali yang kental, dan pada masa ini, Bali menjadi salah satu pusat kebudayaan Hindu di Nusantara, terutama setelah kejatuhan Majapahit pada abad ke-15. Banyak bangsawan dan seniman dari Majapahit melarikan diri ke Bali, membawa serta kebudayaan Jawa Hindu yang memperkaya budaya lokal Bali.
PERIODE KERAJAAN-KERAJAAN BALI
Setelah era Gelgel, Bali terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil, seperti Klungkung, Gianyar, Badung, Karangasem, dan Buleleng. Setiap kerajaan memiliki otonomi sendiri dan sering kali terlibat dalam perselisihan atau perang antar kerajaan. Salah satu kerajaan yang cukup kuat pada periode ini adalah Kerajaan Karangasem yang pada masa tertentu juga menguasai wilayah Lombok.
Meskipun begitu, budaya Bali tetap bertahan dan berkembang dengan sangat pesat. Upacara-upacara keagamaan, seni tari, ukiran, dan arsitektur yang kaya menjadi ciri khas Bali selama periode kerajaan-kerajaan kecil ini. Hingga saat ini, budaya dan tradisi yang diwariskan oleh kerajaan-kerajaan ini masih sangat hidup di masyarakat Bali.
ERA KOLONIAL BELANDA
Pada abad ke-19, Belanda mulai memperluas pengaruhnya ke Bali, yang saat itu masih terpecah dalam kerajaan-kerajaan kecil. Belanda melakukan beberapa ekspedisi militer untuk menaklukkan Bali. Salah satu yang terkenal adalah Perang Puputan, perlawanan heroik rakyat Bali di Badung (1906) dan Klungkung (1908) melawan tentara Belanda. Meskipun perlawanan ini berakhir dengan kekalahan, masyarakat Bali memperlihatkan semangat juang yang luar biasa dengan banyaknya raja dan rakyat yang memilih bertempur hingga mati daripada menyerah.
Setelah berhasil menguasai Bali, Belanda memasukkan Bali ke dalam Hindia Belanda, tetapi mereka tetap menghormati tradisi dan sistem pemerintahan lokal, yang memungkinkan Bali tetap menjaga identitas kebudayaannya.
BALI DI ERA KEMERDEKAAN & ZAMAN MODERN
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Bali menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pulau ini kemudian berkembang sebagai salah satu pusat kebudayaan, pariwisata, dan seni di Indonesia. Sejak dekade 1970-an, Bali mengalami ledakan pariwisata, yang membawa banyak perubahan di bidang ekonomi, infrastruktur, dan sosial. Namun, Bali tetap mempertahankan identitas budaya dan tradisinya.
Bali juga mengalami tantangan besar, seperti serangan bom pada tahun 2002 dan 2005 yang merenggut banyak nyawa. Namun, masyarakat Bali berhasil bangkit kembali, dan hingga saat ini Bali tetap menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di dunia, yang kaya akan budaya, seni, dan spiritualitas.
KEUNIKAN BUDAYA BALI
Hingga kini, masyarakat Bali masih memegang teguh tradisi keagamaan dan adat istiadat mereka. Agama Hindu Bali menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat, dengan ritual keagamaan yang rumit dan sakral, seperti upacara Ngaben (pembakaran jenazah), Galungan, dan Nyepi. Pura, yang menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat Bali, tersebar di seluruh pulau. Pura Besakih, yang terletak di kaki Gunung Agung, adalah pura terbesar dan tersuci di Bali.
Seni tari, ukir, dan musik gamelan Bali juga menjadi ciri khas kebudayaan Bali yang diakui di dunia internasional. Tarian seperti Kecak, Barong, dan Legong sangat terkenal dan sering dipertunjukkan di berbagai tempat untuk wisatawan.
Sejarah Bali mencerminkan perjalanan panjang dari masa prasejarah hingga menjadi pusat kebudayaan Hindu yang kaya dan berpengaruh. Meskipun mengalami berbagai tantangan, baik dari luar maupun dalam, Bali berhasil menjaga identitasnya sebagai pulau yang kaya akan budaya, spiritualitas, dan seni. Hingga saat ini, Bali terus berkembang sebagai salah satu ikon kebudayaan dan pariwisata Indonesia.
Referensi sumber:
Covarrubias, Miguel. Island of Bali. New York: Alfred A. Knopf, 1937.
Geertz, Clifford. Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali. Princeton: Princeton University Press, 1980.
Pringle, Robert. A Short History of Bali: Indonesia's Hindu Realm. Crows Nest: Allen & Unwin, 2004.
Semua Orang Sorotan Pengikut