Antaboga, Sang Penyangga Bumi

Kalian kenal Jörmungandr dari mitologi Nordik kan? 
Ular raksasa yang melingkar di dasar laut, menahan beban dunia?

Nah, aku punya peran yang sama. 
Tapi bedanya, dia viral di mana-mana. Di film, komik, game

Sedangkan aku? Rasanya sedikit yg tau, bahkan masyarakat Indonesia itu sendiri.

Perkenalkan, namaku Antaboga. Dan ini ceritaku 🧵
Aku adalah ular raksasa yang melingkar tanpa tujuan.

Aku bahkan tidak tahu namaku sendiri waktu itu. Tidak ada yang memberi tahu, tidak ada yang memanggilku.

Karena memang, tidak ada siapa-siapa saat itu. Hanya ada kegelapan dan kesunyian
Aku tidak tahu berapa lama aku merasakan kesendirian itu. 
Waktu tidak ada artinya jika kamu sendirian, bukan?

Kesunyian itu menyakitkan. Aku mulai mempertanyakan alasan kenapa aku dilahirkan. 

Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, aku memutuskan untuk bermeditasi.
Aku memutuskan melingkar dan menutup mata.
Bertahun-tahun. Berabad-abad. Aku hanya diam dan menunggu jawaban.

Hingga suatu hari, sesuatu terjadi.

Dari dalam diriku, muncul sesuatu yang hangat. Sesuatu yang terasa "hidup".

Aku mencoba membuka mata. Dan ternyata, di hadapanku sudah ada seekor kura-kura raksasa.

Kulitnya keras seperti batu. Matanya terang sekali.

Belakangan aku tahu, nama dia adalah Bedawang.
"Siapa kamu?", tanyaku.

"Aku adalah hasil dari meditasimu", jawabnya.
"Kamu sedang mencari tujuan kan? Maka aku lahir untuk membantumu"

"Membantu untuk apa?", tanyaku tidak mengerti.

Bedawang hanya tersenyum. "Untuk dunia yang akan datang"
Dari punggung Bedawang, muncullah tanah.
Dari tanah, tumbuh pohon dan sungai

Pelan-pelan, tiba-tiba banyak makhluk yang muncul. Burung, ikan, makhluk berkaki empat.

Ternyata, dunia yang selama ini aku nantikan mulai muncul satu persatu.

Aku hanya bisa terpana
"Ini.. hasil dari meditasiku selama ini", tanyaku pelan.

Bedawang hanya bisa tersenyum, yang aku tidak tahu artinya apa.
Namun, periode bulan madu itu hanya sebentar, hingga ada masalah.

Dunia yg baru lahir itu ternyata tidak stabil. Bumi mulai bergoyang. Gunung runtuh berhamburan.

Tiba-tiba, muncul sebuah suara
"Bedawang tidak cukup kuat jika sendiri"

Aku menoleh. Seorang lelaki tua berdiri di sampingku.
"Siapa kau?"

"Aku adalah Kasyapa, ayahmu"
"Ayah?? Tapi selama ini aku sendirian, tidak ada yang---" kataku bingung.

"Salah!", potong Kasyapa. 
"Kau lahir dari Kadru, istriku. Kamu adalah putra tertua dari bangsa naga. Kau sendiri yang memilih bertapa dan menyendiri untuk mencari makna"
"Dunia ini butuh penyangga", katanya tiba-tiba

"Jika aku menyangga dunia, apa aku akan selamanya di bawah sini? Sendirian lagi?" tanyaku.

Kasyapa diam lumayan lama.
"Betul. Tapi percayalah, apa yang kamu lakukan adalah hal terpuhi. Karena kehidupan di atas sana bisa berkembang karena kamu ada dibawah, menyangga mereka"
Berbekal kenyataan bahwa aku "dibutuhkan", aku memutuskan melingkar di bawah Bedawang. 

Ternyata, beban yang dibawa oleh Bedawang luar biasa berat. Gunung, samudra, makhluk hidup. Semua berada di atas tubuhku.

Walaupun lelah, anehnya aku tidak merasa sedih. Karena sekarang, aku merasa bahwa kehadiranku punya tujuan mulia
Berabad-abad berlalu. Dunia di atas terus berubah.

Para dewa lahir. Manusia berkembang.
Perang terjadi beberapa kali.
Kerajaan runtuh dan bangkit kembali.

Aku tetap disini, di Saptapratala, lapis bumi paling dalam.
Suatu hari, seseorang jatuh ke tempatku. 
Seorang bayi yang tebakar oleh api.

Hebatnya, ia tidak mati. Tubuhnya terlihat merah membara.

"Siapa kau?" tanyaku.

"Aku, tidak tahu.", katanya sambil meneteskan air mata.
"Aku hanya ingat jika kakekku sendiri yang membuangku ke kawah, karena semua orang takut padaku"
<======Bersambung=============>



Postingan populer dari blog ini

Walter Russell: The Visionary Behind Light and Consciousness

Suargaloka, Narakaloka DAN Mokshaloka

The Mystery of the Horsemen Statues in Gool, Ramban: An Ancient Enigma Unsolved